Senin, 11 Oktober 2010

Budaya vs Modem

Di akhir abad 20-an warna budaya di Indonesia bisa dikatakan beragam sesuai dengan banyaknya macam budaya masyarakat indonesia. Ada yang makin maju, ada yang makin terang, ada pula yang redup bahkan juga tenggelam atau hilang.
Maksudnya terang dan maju itu sama saja, tapi kata terang di sini di artikan dalam arti positif, maksudnya adalah keteguhan hati masyarakat pemilik budaya tersebut untuk mempertahankan keaslian budaya warisan leluhur mereka, hingga berikan berkah yang besar bagi masyarakat tersebut. Karena dengan terpeliharanya kebudayaan mereka menjadikan bumi mereka tempat yang begitu menarik untuk dikunjungi bagi masyarakat dunia yang tertarik untuk tahu lebih banyak kebudayaan mereka dari dekat. Hal itu menjadikan bumi masyarakat tersebut menjadi objek pariwisata yang ramai di kunjungi oleh turis lokal maupun mancanegara. Daya tarik bumi dengan kadar budaya yang masih kental atau malah bisa di sebut masih asli tersebut di dukung oleh keindahan alamnya yang memukau dan masih terjaga dengan baik pula. Tempat yang dimaksud dalam paragraf ini adalah Bali, yaa.....pulau Bali dimata dunia memang lebih dikenal ketimbang negara pemilik pulau dengan sebutan pulau Dewata tersebut, Indonesia.
Dan maksudnya kata majunya kebudayan dalam artikel ini adalah berunsur negatif, maksudnya adalah majunya budaya bersenang - senang masyarakat Indonesia dalam kehidupan malam hingga tak perdulikan lagi nilai - nilai norma adat dan agama. Budaya bobrok ini memang telah ada sejak lama, tapi di saat sekarang ini jenis kebudayaan yang tak ada faedahnya sama sekali ini telah benar - benar menggila. Itu dapat di buktikan dengan merambahnya budaya buruk ini pada para generasi muda Indonesia, bahkan pada para remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Kondisi ini menyebabkan sangat banyak pemuda / calon penerus bangsa di khawatirkan tak mampu mendapatkan bentuk hidup masa depan yang di impikan dan membanggakan.
Sedang jenis kebudayaan yang redup sebagai contohnya adalah sebuah seni tari Kuda Lumping, yang meskipun masih ada tapi sudah amat sangat jarang terlihat dimainkaan, dipublikasikan serta dikembangkan. Adapun beberapa aliansi perkumpulan pelaku kesenian tradisional yang masih jalani kesenian - kesenian tradisional semacam ini tapi jumlah mereka begitu sedikit hingga pemublikasiaan keseniaan tradisional tak cukup menggena pada masyarakat luas di era globalisasi / modern ini. Bila kondisi ini terus berlanjut dapat di khawatirkan akan membuat generasi muda bangsa Indonesia semakin tak banyak tau atau bahkan tak tau sama sekali terhadap kebudayaan – kebudayan bangsanya sendiri. Hal ini tentu saja akan membuat budaya – budaya tradisional warisan nenek moyang akan hilang seiring dengan perkembangan zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar